Rabu, 27 Februari 2013

Ke Manakah HMI-MPO?

— LAPMI HMI-MPO PURWOKERTO @ 05.41
Ke manakah aktivitas kader-kader HMI-MPO akhir-akhir ini? Hilangnya gaung kader progresif revolusioner dari HMI-MPO ini menimbulkan sebuah tanda tanya besar. Apakah gejala ini disebabkan oleh gejala mahasiswa pada umumnya yang mulai enggan berkecimpung dalam dunia organisasi atau memang rung organisasi HMI-MPO ini yang sudah mulai lenyap? Hanya Allah yang tau.

Kamis, 15 Desember 2011

Aksi Solidaritas untuk Sondang Hutagalung: SBY-Boediono Pembunuh!

— LAPMI HMI-MPO PURWOKERTO @ 19.24
LAPMI Puwokerto (13/12/11), HMI-MPO gelar aksi solidaritas untuk Sondang Hutagalung. Aksi dimulai dari sekretariat HMI-MPO Cabang Purwokerto berjalan menuju pertigaan jalan kampus dan berakhir di depan Gedung Auditorium. Aksi solidaritas ini adalah wujud solidaritas kepada Sondang Hutagalung sebagai anak bangsa yang gugur bunuh diri di depan Istana Negara pada hari anti korupsi Jumat yang lalu.

Kematian Sondang Hutagalung merupakan bentuk “prustasi” bangsa ini terhadap kondisi yang makin carut marut. Pemerintah SBY-Budiono dinilai gagal memberikan jaminan rasa aman bagi rakyatnya, baik itu rasa aman dari ketakutan akan kesulitan mengakses pendidikan, rasa aman dari ketakutan akan sulitnya memenuhi kebutuhan hidup dan ketakutan-ketakutan lainnya. HMI-MPO menilai bahwa SBY-Boediono telah “membunuh” rakyatnya sendiri. Pemerintah tidak sanggup menuntaskan kasus-kasus korupsi dengan adanya tebang pilih terhadap pelaku korupsi.

Aksi yang dilakukan dengan mengenakan kostum hitam-hitam dengan wajah putih menjadi simbol kematian nurani pemimpin negeri ini. Ini juga sebagai simbol berkabung atas kondisi keterpurukan bangsa Indonesia, demikian yang diungkapkan oleh Imam Rohudin selaku Ketua Umum HMI-MPO Cabang Purwokerto. Lebih lanjut Imam mengatakan “aksi ini menunjukan dan merefleksikan bahwa solidaritas kepada Sondang tidak semata-mata wujud empati kepada Sondang saja, tetapi lebih jauh dari itu, bagaimana semangat perjuangan Sondang yang memerjuangkan dan menyuarakan penderitaan rakyat kecil.”

Sepanjang perjalanan, massa aksi melakukan orasi dan meneriakan yel-yel. Aksi ini sempat menarik perhatian warga yang melintas di jalan kampus dan pengguna jalan HR. Bunyamin. Aksi yang dikordinatori oleh Syahid ini semakin menarik perhatian ketika melakukan orasi di depan Gedung Auditorium yang pada siang itu tengah digelar acara wisuda. Salah satu orator berpesan agar para sarjana akan tetap memegang idealisme dan keberpihakannya kepada kaum lemah.

Massa sempat menaiki pagar gedung dan berorasi dari atas tembok gedung. Aksi ini sempat dihadang oleh pihak keamanan kampus, namun akhirnya diperbokehkan dengan catatan tidak melakukan tindakan anarki yang dapat mengganggu acara wisuda. Massa membubarkan diri sekitar pukul 12 siang tepat saat acara wisuda selesai. (Jaya)
lihat press....


Press Realesse: Aksi Solidaritas Untuk Sondang Hutagalung

— LAPMI HMI-MPO PURWOKERTO @ 19.21

Hari anti korupsi diperingati di seluruh dunia dengan berbagai aksi dan demontrasi. Pada momentum tersebut kita semua dikejutkan oleh media tentang aksi Sondang Hutagalung yang membakar dirinya sendiri di depan istana merdeka. Mengapa demikian?

Sondang Hutagalung yang ternyata adalah seorang aktivis HAM yang tergabung dalam KONTRAS, dikenal sebagai seorang yang gigih membela rakyat kecil. Ia selalu menyuarakan aspirasi rakyat namun tak pernah direspon oleh pemerintah. Dari pengalaman itulah Sondang lantas melakukan aksinya yang sontak membuat kita semua tercengang.

Apa yang dilakukan Sondang menyiratkan pesan kepada pemerintah tentang berbagai kekacauan yang terjadi di Indonesia. Berbagai kasus seperti korupsi, pelanggaran HAM, ketidakadilan dan tidak adanya kepastian hukum kian marak terjadi. Kemanusiaan terus-menerus dikebiri dan dicederai.

Kemanusiaan telah diperkosa dan direnggut. Pemerkosaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan ini ada diberbagai bidang. Di bidang politik, setiap orang di negeri ini yang harusnya berhak hidup, saat ini selalu terhimpit bayang-bayang kematian. Supremasi hukum begitu rapuh. Keadilan tidak berpihak pada rakyat kecil. Kita mengetahui kasus Marsinah buruh di Jawa Timur, kasus Munir, tragedi Semanggi dan Tanjung Priok yang tak kunjung tuntas. Kasus lain yang kian melukai kemanusiaan adalah korupsi. Kasus BLBI dan Bank Century sampai saat ini belum menemukan titik terang.

Setiap manusia Indonesia berhak memperoleh pendidikan sesuai dengan yang diamanatkan Undang-Undang Dasar 1945 untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun faktanya banyak anak putus sekolah karena mahalnya biaya pendidikan. Media sebagai salah satu sarana pendididikan justru tidak mencerdaskan masyarakat kita. Kalau begini, yang terjadi sebaliknya yakni pembodohan kehidupan bangsa. Tayangan-tayangan di media kian membingungkan. Media saat ini sarat dengan tayangan-tayangan kriminal, kekerasan yang tidak mendidik dan malah semakin mengkerdilkan masyarakat.

Sudah sepantasnya kini seluruh rakyat Indonesia menyatakan solidaritas kepada sahabat yang begitu peduli atas segala sesuatu yang terjadi pada bangsa Indonesia saat ini. Seorang sahabat yang begitu risau jiwanya, begitu gelisah hatinya melihat keterpurukan-keterpurukan yang terjadi di negeri ini. Perlu kita sadari bahwa kegelisahan yang dirasakan Sondang Hutagalung adalah kegelisahan kita semua. Kekalutannya adalah kekalutan semua putra-putri yang cinta akan bangsa Indonesia dan nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena itu kami dari HMI MPO menghimbau kepada seluruh masyarakat Banyumas khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya untuk meneruskan perjuangan Sondang Hutagalug. Kita teriakan apa yang diteriakan Sondang, yang begitu bergema di telinga dan hati kita. Suara orang-orang yang rindu akan kebenaran dan keadilan.


Senin, 11 Juli 2011

Forum HMI Inbagteng di Semarang

— LAPMI HMI-MPO PURWOKERTO @ 21.23
HMI BADKO INBAGTENG Bergeliat

(Lapmi-Pwt), Sabtu 09 Juli 2011 menjadi hari sejarah baru bagi HMI secara umum dan HMI Inbagteng pada khususnya. Bertempat di sekretariat HMI Cabang Semarang, perwakilan pengurus cabang HMI se-Inbagteng kembali bergeliat merumuskan agenda HMI ke depan. Forum silatturahmi HMI se-Inbagteng kali ini dihadiri oleh perwakilan pengurus HMI Cabang Yogyakarta, HMI Cabang Sleman, HMI Cabang Semarang, HMI Cabang Wonosobo, dan HMI Cabang Purwokerto.
Tepat Pukul. 16.15 WIB forum ini dibuka oleh Ahmad Choerul Umam yang dilanjutkan dengan Ta’aruf serta sharing agenda masing-masing cabang se-Inbagteng. Setelah sharing agenda masing-masing cabang selesai, forum dilanjutkan dengan agenda membahas keberadaan HMI Inbagteng secara struktural. HMI Inbagteng dalam periode kepemimpinan Umam secara struktural memang belum jelas statusnya, meski sebelumnya Umam sebagai ketua umum HMI Badko Inbagteng pernah mengajukan surat pengunduran sebagai pengurus HMI Inbagteng namun saat itu belum mendapatkan respons dari PB HMI kepengurusan Chozin. Umam menegaskan, pasalnya saat itu Umam mengajukan surat pengunduran diri sebagai pengurus HMI Badko Inbagteng karena pada saat itu PB HMI diduga melanggar Independensi HMI.
Aziz, ketua umum demisioner HMI cabang Wonosobo mengatakan, “Mengingat rekomendasi kongres ke-28 kemarin yang salah satunya adalah kejelasan status HMI badko Inbagteng, maka sebaiknya kita tindaklanjuti saja, butuh Musbadko secepatnya, kalau perlu Musbadkolub”. Perdebatan mengenai mekanisme menuju Musbadko atau Musbadkolub berlangsung cukup alot, sampai ba’da maghrib tiba forum ini belum mencapai kesepakatan. Usai pending sholat maghrib barulah forum ini mencapai kesepakatan yakni merokemendasikan pengurus masing-masing cabang se-Inbagteng agar membuat surat permohonan agenda Musbadko HMI Inbagteng, yang ditujukan langsung kepada PB HMI kepengurusan Alto.
Kesepakatan-pun telah dihasilkan, Sekitar Pukul 19.26 WIB forum ini ditutup, kemudian dilanjutkan dengan agenda makan malam bersama di sekretariat HMI Cabang Semarang, dan masing-masing utusan cabang yang hadir saling sharing kondisi internal, termasuk agenda-agenda terdekat masing-masing cabang [Tno].

Sabtu, 07 Mei 2011

RAK HMI KOMFIS : Reekuilibirium Gerakan HMI Untuk Penguatan Organisasi

— LAPMI HMI-MPO PURWOKERTO @ 09.08
Purwokerto (07/11). Sabtu sampai minggu menjadi hari yang bersejarah bagi kepengurusan HMI (MPO) komisariat FISIP (KOMFIS) UNSOED Purwokerto. Sekitar 30 orang kader HMI yang terdiri dari kader HMI komisariat FISIP, dan beberapa kader utusan dari komisariat lain, melangsungkan Rapat Anggota Komisariat (RAK) di Wisma Wiyata Baturraden-Purwokerto. RAK HMI KOMFIS yang bertema “Reekuilibirium Gerakan HMI untuk Penguatan HMI” ini berangkat dari beberapa kebutuhan khusus HMI KOMFIS Purwokerto diantaranya kaderisasi dan evaluasi gerakan mahasiswa islam demi penguatan ghiroh perjuangan sebagai counter hegemoni merebaknya budaya pop di kalangan mahasiswa pada umumnya.

Jalannnya RAK kali ini berbeda dengan RAK yang sebelumnya. Kepengurusan HMI KOMFIS UNSOED mengalami masa jabatan sampai 2 tahun kepengurusan yang dampaknya adalah terlalu banyak permasalahan baik di internal Komisariat maupun di tingkat HMI cabang Purwokerto. Erwin, ketua umum HMI cabang Purwokerto dalam forum Laporan Pertanggungjawaban Pengurus HMI KOMFIS mengatakan, “Sebenarnya banyak sisi positif dari kepengurusan HMI KOMFIS, yang menjadi permasalahan mendasar sebenarnya cuma ada pada semangat dan solidaritas antara pengurus KOMFIS saja. Karena evaluasi secara umumnya adalah banyak program yang tidak terselenggara karena kurangnya koordinasi antarpengurus”.

Secara keseluruhan, HMI Komfis kepengurusan Bambang Wibiono dinilai banyak kekurangan dan banyak evaluasi di tingkatan koordinasi. Syahid Muthahari M, Kabid PTK HMI KOMFIS demisioner menambahkan, “kultur kajian pada masa kepengurusan HMI memang sangat kurang terbangun, beberapa waktu lalu saya di PTK mengadakan kajian tentang Pemikiran M.Natsir, Perkembangan Kapitalisme-Neoliberalisme, saat itu banyak diminati, tetapi pasca itu banyak kader yang tidak mengikuti kajian-kajian yang diadakan”.

Malam-pun semakin dingin, tetapi tidak menyurutkan semangat berdiskusi peserta RAK HMI Komfis Purwokerto. Banyak harapan-harapan terlontarkan dalam forum RAK kali ini, semoga tercapai semua harapan HMI Komfis demi terwujudnya tatanan masyarakat yang diridhoi oleh Allah SWT. Yakin Usaha Sampai akan tetap menjadi prinsip yang relevan untuk melanjutkan gerakan keumatan di HMI Cabang Purwokerto dan HMI Komfis pada khususnya (tno).

Selasa, 26 April 2011

Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia

— LAPMI HMI-MPO PURWOKERTO @ 04.57

(Oleh Naekma, SH dan I Wayan Pageh, SE, MM*).

Perbedaan penafsiran terhadap implementasi Undang Undang Nomor: 39 tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri antara 2 (dua) lembaga negara yaitu Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) dan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), secara spesifik persoalannya adalah apakah BNP2TKI hanya melakukan penempatan dan perlindungan TKI yang dilaksanakan pemerintah G to G dan G to P saja? Sejak 2007, BNP2TKI telah melakukan pelayanan penempatan TKI yang dilaksanakan pemerintah, Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (PPTKIS), TKI mandiri dan penempatan perusahaan sendiri. Perjalanan sejarah penempatan TKI menjadi alasan pembenar bahkan apa yang biasanya dilakukan di masa lalu, itulah yang paling benar. Diera global ini, penempatan dan perlindungan TKI paling tidak harus berpedoman kepada 2 (dua) undang-undang yaitu Undang Undang Nomor: 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang Undang Nomor: 39 Tahun 2004 beserta peraturan pelaksanaannya. Apabila kedua undang-undang dan peraturan pelaksanaannya dipahami dengan benar, niscaya, siapapun atau lembaga manapun tidak akan terjebak ke masalah kewenangan. Karena, siapapun sebagai pemangku kewenangan, bukanlah menjadi ukuran utama, namun siapa yang mengambil peran yang paling besar dalam menjamin hak-hak TKI. Penanganan kewenangan pelayanan penempatan dan perlindungan TKI PPTKLN) harus berpedoman kepada Undang Undang Nomor: 32 Tahun 2004, artinya pemerintah berfungsi merumuskan standar, pedoman, norma, dan kriteria yang diwujudkan dalam berbentuk Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan pembahasannya dengan Menteri Dalam Negeri dan pemangku kepentingan lainnya termasuk BNP2TKI.

Reformasi penempatan dan perlindungan TKI dapat dipastikan gagal apabila disengaja pemasungan dengan dalih pelimpahan kewenangan serta mengkerdilkan atau membonsai BNP2TKI dengan dalih hanya melakukan penempatan pemerintah melalui peraturan menteri. Siapapun tahu keberadaan BNP2TKI yang dibentuk atas perintah Undang Undang Nomor: 39 Tahun 2004 yang bentuk formalnya adalah Peraturan Presiden (Peraturan Presiden Nomor: 81 Tahun 2006). Lalu, apa dasar hukum, BNP2TKI yang telah melakukan pelayanan penempatan dan perlindungan TKI di luar penempatan pemerintah, sejak tahun 2007? Upaya untuk memahami Pasal 95 ayat (1) dan ayat (2) Undang Undang Nomor: 39 Tahun 2004 yang merupakan pokok permasalahan. Pasal 95, seharusnya dipahami lebih obyektif dan konsisten, dengan taat asas hukum serta dikaitkan dengan perspektif filosofis, juridis serta sosiologis, sebab secara folosofis pasar kerja dalam negeri berbeda dengan pasar kerja luar negeri. Pasar kerja dalam negeri pemerintah dapat mengatur permintaan (demand) dan penawaran (supply) secara bersama-sama, sedangkan pasar kerja luar negeri masing-masing pemerintahan negara hanya dapat mengendalikan dari satu sisi saja yaitu pemerintah negara pengirim seperti Indonesia hanya dapat mengendalikan dari segi permintaan (supply) sedangkan pemerintahan negara penerima TKI mengendalikan dari segi permintaan (demand). Atas dasar itulah Pemerintah RI merasa perlu membentuk BNP2TKI yang khusus menangani pasar kerja luar negeri.

Dengan demikian Undang Undang Nomor: 39 Tahun 2004, Pasal 95 ayat (1), secara tegas menyebutkan bahwa BNP2TKI mempunyai fungsi pelaksanaan kebijakan di bidang penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri secara terkoordinasi dan terintegrasi, lebih lanjut ayat (2) BNP2TKI bertugas: a. melakukan penempatan atas dasar perjanjian secara tertulis antara pemerintah dengan pemerintah negara pengguna TKI atau pengguna berbadan hukum di negara tujuan penempatan sebagaimana Pasal 11 ayat (1), b. memberikan pelayanan, mengkoordinasikan, dan melakukan pengawasan mengenai: 1) dokumen; 2) Pembekalan Akhir Pemberangkatan (PAP); 3) penyelesaian masalah; 4) sumber sumber pembiayaan; 5) pemberangkatan sampai pemulangan; 6) peningkatan kualitas calon TKI; 7) informasi; 8) kualitas pelaksanaan penempatan TKI; dan 9) peningkatan kesejahteraan TKI dan keluarganya. Sah-sah saja meletakkan fungsi BNP2TKI sebagai lembaga penempatan pemerintah semata, jika memperhatikan konstruksi Pasal 95 yang terdiri dari 2 (dua) ayat dan penulisan dalam satu pasal, hal ini karena ada kesamaan materi antara ayat (1) dan ayat (2) dan rangkaian materi yang tidak dapat dipisahkan (Undang Undang Nomor: 10 Tahun 2004, penjelasan dalam angka 50 dan 59).

Pendapat lain, bahwa BNP2TKI berfungsi untuk melayani penempatan TKI tidak hanya penempatan pemerintah berarti termasuk penempatan oleh PPTKIS, TKI Mandiri serta untuk perusahaan sendiri dengan alasan:

Pertama, dalam Undang Undang Nomor: 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang secara tegas memisahkan penempatan tenaga kerja yaitu penempatan tenaga kerja dalam negeri dan tenaga kerja luar negeri (Pasal 33 dan 34 Undang Undang Nomor: 13 Tahun 2003), dan perintah undang-undang tersebut dijawab dengan ditetapkannya Undang-Undang Nomor: 39 Tahun 2004. Peraturan perundangan yang tersendiri mengenai penempatan dan perlindungan TKI karena penempatan tenaga kerja di luar negeri selama ini diatur oleh ordonantie dalam Stablaad 1887 Nomor: 8 dan peraturan Menteri atau peraturan di bawah peraturan Menteri sehingga di samping pengaturannya bersifat sumir/sederhana juga lemah dalam hierarkhis peraturan perundang-undangan. Dengan demikian, dalam peraturan menteri untuk pelaksanaan Undang Undang Nomor: 13 Tahun 2003, substansi materinya sudah seharusnya dibedakan dalam rangka penempatan tenaga kerja dalam negeri dan luar negeri.

Misalnya, unsur-unsur penempatan tenaga kerja sebagaimana Pasal 36 Undang Undang Nomor: 13 Tahun 2003, yaitu: pencari kerja, lowongan kerja, informasi pasar kerja, mekanisme antar kerja serta kelembagaan penempatan, pastilah tidak sama, karena bagaimanapun penempatan tenaga kerja luar negeri sangat tergantung pada negara penempatan.

Kedua, mengingat tujuan dibentuknya BNP2TKI adalah "untuk menjamin dan mempercepat terwujudnya tujuan penempatan dan perlindungan TKI diperlukan tanggung jawab terpadu" (Pasal 94 ayat (1) dan ayat (2) Sedangkan tujuan penempatan dan perlindungan TKI tercantum dalam Pasal 3, yaitu: 1) memberdayakan TKI secara optimal dan manusiawi, 2) menjamin dan melindungi TKI serta 3) meningkatkan kesejahteraan TKI dan keluarganya. Dengan demikian keberadaan BNP2TKI untuk menjamin pencapaian tujuan penempatan dan perlindungan tanpa mempersoalkan pembedaan atau pemisahan mengenai pelaksana penempatan dan yang paling penting serta utama adalah mengkedepankan kualitas pelayanan terhadap perlindungan TKI.

Ketiga: Kerancuan menginterprestasikan terminologi atau istilah ketenagakerjaan dan pemerintah pusat dalam peraturan perundangan.

Istilah Ketenagakerjaan

Ketenagakerjaan adalah segala hal yang berhubungan dengan tenaga kerja pada waktu sebelum, selama, dan sesudah masa kerja --angka 1 Pasal 1 Undang Undang Nomor: 13 Tahun 2003-- dan dalam Peraturan Pemerintah Nomor: 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota salah satu sub bidang urusan pemerintahan adalah ketenagakerjaan. Lalu dengan gampang disebutkan bahwa Menteri yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan yang berwenang mengaturnya. Tafsiran seperti itu melupakan bahwa BNP2TKI berfungsi pelaksanaan kebijakan di bidang penempatan dan perlindungan TKI --Pasal 95 ayat (1) Undang Undang Nomor: 39 Tahun 2004-- berarti tidak hanya menyangkut ketenagakerjaan semata. Hal lain bahwa kelembagaan BNP2TKI, terdiri dari wakil-wakil instansi pemerintah terkait seperti bidang kependudukan, keimigrasian, kepolisian, kesehatan serta bidang lain yang dibutuhkan (Pasal 94 dan Pasal 96 Undang Undang Nomor: 39 Tahun 2004).

Istilah Pemerintah (Pusat)

Dalam Undang Undang Nomor: 39 Tahun 2004 disebutkan bahwa pemerintah pusat adalah perangkat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri dari presiden beserta para menteri, namun dalam Undang Undang Nomor: 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah serta PP Nomor: 38 Tahun 2007 secara tegas disebutkan bahwa pemerintah pusat selanjutnya disebut pemerintah, adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Istilah pemerintah harus dipahami sesuai dengan Undang Undang Nomor: 32 Tahun 2004 dan PP Nomor: 38 Tahun 2007 bukan atas dasar Undang Undang Nomor: 39 Tahun 2004. Karena Undang Undang Nomor: 39 Tahun 2004 harus menyesuaikan dengan Undang Undang Nomor: 32 Tahun 2004 yang merupakan perintah Pasal 18 ayat (7) Undang Undang Dasar RI 1945. Dengan demikian, haruslah menjadi pertimbangan, bahwa BNP2TKI merupakan pemerintah pusat yang berbentuk lembaga pemerintah non-kementerian.

Keempat: Mencari upaya hukum yang tepat melalui pertimbangan das sollen dan das sein. Tindakan serta merta melalui peraturan menteri tidaklah mendasar sama sekali serta dipaksakan. Buktinya, seharusnya terlebih dahulu membuat PP tentang penempatan pemerintah sebagai perintah Pasal 11 ayat 2 Undang Undang Nomor: 39 Tahun 2004. Selain itu, perlu dipahami bahwa secara hirarkhi, peraturan menteri tidak tercantum dalam Undang Undang Nomor: 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang Undangan, alasannya untuk lebih mengedepankan peraturan daerah, sehingga hierarkhi Permen lemah dan apalagi tanpa memperhatikan prosedur penetapannya.

Fakta menunjukkan bahwa:

Calon TKI/TKI. Karakteristik calon TKI/TKI yang sebagian besar terbatas aksesnya untuk mendapatkan informasi disebabkan kualitas calon TKI/TKI memiliki pendidikan dan keterampilan yang rendah, biasanya disebut sebagai tenaga kerja informal, sehingga perlu mendapat perlindungan ekstra dari pemerintah. Fakta, tanggung jawab PPTKIS lebih besar dari pemerintah, lihatlah penjelasan Undang Undang Nomor: 39 Tahun 2004 menyebutkan bahwa calon TKI/TKI yang belum dapat menikmati akses informasi menjadi tanggung jawab pemerintah.

Penganggaran. Berdasarkan Undang Undang APBN Tahun 2008, BNP2TKI telah ditetapkan sebagai lembaga untuk menempatkan TKI di seluruh negara penempatan. Berarti tidak hanya G to G/P yang saat ini hanya untuk negara Korea Selatan dan Jepang.

Pelayanan langsung. BNP2TKI membawahi 19 (sembilan belas ) organisasi Unit Pelaksana Teknis (UPT) atau Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) serta 13 (tiga belas) Pos Pelayanan di embarkasi atau debarkasi yang tugas pokoknya memberikan kemudahan pemrosesan dokumen dan penyelesaian permasalahan TKI. Pelayanan langsung melalui pelayanan terpadu satu pintu. Dalam pelayanan satu pintu, kedudukan Dinas ketenagakerjaan merupakan instansi yang sangat berperan dalam pelayanan tersebut. Selain itu, keberadaan BP3TKI sebelumnya BP2TKI, sejak diberlakukannya Undang Undang Nomor: 22 Tahun 1999 yang sekarang menjadi Undang Undang Nomor: 32 Tahun 2004, UPT tersebut tidak diserahkan ke pemerintahan daerah. Alasannya karena bersifat lintas negara dan lintas provinsi.

Pelimpahan urusan pemerintahan. Dalam pelimpahan urusan pemerintahan (urpem) terlebih dahulu menetapkan Standar Pelayanan Minimal (SPM), tidak serta merta dengan Peraturan Menteri. Menteri hanya membuat standar, pedoman, kriteria dan prosedur dan pembahasannya bersama dengan Menteri Dalam Negeri serta pemangku kepentingan termasuk BNP2TKI. Materi yang dibuat SPM telah tercantum dalam lampiran PP Nomor: 38 Tahun 2007. Apabila diatur sebaliknya, maka terjadi tumpang tindih antara Dinas dengan BP3TKI.

Upaya hukum (legal remedies). 1) penyelesaian melalui lingkungan eksekutif (executif review) artinya tidak mengambil keputusan atas nama negara apabila ada konflik kepentingan, semestinya diserahkan kepada atasannya atau pihak lain di lingkungan eksekutif yang paling berwenang; 2) penyelesaian melalui Ombudsman sebagai lembaga negara yang bersifat mandiri dan tidak memiliki hubungan organik dengan lembaga negara dan instansi pemerintahan lainnya, karena alasan terganggunya pelayanan publik (Undang Undang Nomor: 37 Tahun 2008 tentang Ombudsman Republik Indonesia); 3) Penyelesaian melalui kewenangan legislatif (DPR) dengan melaksanakan hak mengajukan peratanyaan atau angket karena adanya perbedaan dalam mengimplementasikan undang-undang; 4) Judicial Review pengujian legalitas peraturan perundang-undangan di bawah Undang-Undang ke Mahkamah Agung (the legality of regulation); 5) Pengujian konstitusionalitas undang-undang oleh Mahkamah Konstitusi dengan batu ujinya adalah Undang Undang Dasar 1945 terhadap Undang Undang Nomor: 39 Tahun 2004.

Akhirnya, reformasi terhadap penempatan dan perlindungan TKI telah gagal di tengah jalan karena kehilangan "good will" dalam pembuatan peraturan perundang-undangan. Jangan mengutamakan kekuasaan atau kewenangan lebih mulia mengambil peran aktif memperbaiki keadaan TKI. Ingat, bait lagu John Lennon: "You may say I'am a dreamer, but I'm not the only one". Selamat merenung.


*) Penulis kini sedang mengikuti Program S3 di Universitas Negeri Jakarta

Jumat, 01 April 2011



Aksi "Selamat Datang" Mendiknas

— LAPMI HMI-MPO PURWOKERTO @ 01.04

LAPMI PWT: Dilaporkan dari Purwokerto. Pagi hari (Jum'at, 1/4/2011), sekitar pukul 09.00 waktu setempat segerombolan mahasiswa sudah berkumpul di halaman kampus FISIP Unsoed. Beberapa dari mereka membawa bendera, spanduk, dan poster berisi tuntutan mereka. Ternyata dikabarkan bahwa pada hari itu Menteri Pendidikan Nasional akan datang ke Universitas Jenderal Soedirman untuk meresmikan gedung auditorium baru yang diberi nama Graha Widyatama.

Ternyata ini adalah bentuk aksi Selamat Datang bagi Pak Menteri. Sekitar ratusan mahasiswa melakukan aksi demonstrasi menyambut kedatangan Mendiknas. Aksi dilakukan sekitar pukul 09.30 wib. Massa yang terdiri dari mahasiswa baik BEM, UKM, maupun Ormas itu menuntut untuk menghentikan komersialisasi pendidikan. Mereka juga menuntut dicabutnya PP No. 66 Tahun 2010 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah No 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.


Massa bergerak dari dalam kampus menuju lampu merah pertigaan jalan kampus dan melakukan orasi. Setelah itu massa bergerak menuju depan gedung auditorium yang terletak di samping kampus FISIP, Jalan HR Boenyamin, tempat di mana Mendiknas akan singgah. Di pinggir jalan, depan gedung, massa kembali melakukan orasi untuk menyampaikan aspirasi mereka. Karena pintu gerbang gedung ditutup dan dijaga oleh keamanan, massa hanya bisa berorasi di pinggir jalan tepat di depan gedung.


Salah seorang mahasiswa perempuan bernama Siti Nur Rahmayanti, yang mengatasnamakan dirinya dari HMI-MPO sempat memanjat tembok pagar gedung setinggi 2,5 meter dan melakukan orasi, berteriak lantang dari atas. Aksi ini sempat mendapat perhatian publik yang ada di situ.


Setelah berorasi di depan gedung, massa kembali menuju pertigaan jalan kampus dan melakukan aksi tidur di jalan sebagai bentuk protes dan bentuk simpati akan carut carutnya pendidikan di Indonesia. Sebelum massa membubarkan diri, mereka memasang sepanduk di pagar kampus FISIP yang berisi tuntutan mereka. Massa membubarkan diri sekitar pukul 11.30 wib. (wibiono)



Rabu, 16 Maret 2011

Cemilan ala Staytuned

— LAPMI HMI-MPO PURWOKERTO @ 00.57
Menantang Derasnya Arus Sungai
Oleh : Setiyarji*

“istiqomah untuk tidak melakukan dosa dikala tak mampu melakukannya lebih mudah dibandingkan ketika mampu melakukannya” Ibnu Taimiyah

Suatu ketika saya iseng-iseng membuka situs jejaring sosial facebook yang sedang digandrungi masyarakat muda saat ini, dan rasa penasaran saya tergelitik ketika saya menemukan sebuah forum yang membahas sesuatu yang menurut saya menjadi sesuatu yang sangat biasa pada masa ini tapi tidak pada masa lampau sehingga saya-pun memutuskan untuk mengikuti forum itu lebih dalam.
“pacaran anak pondok, benar dari hati atau sekedar obsesi” begitu buyi tema yang dibuat oleh sang empunya forum. Diantara yang mengikuti forum tersebut ada yang men-justifikasi bahwa mereka yang pacaran adalah para pendosa dan hanya mengikuti obsesi semata terlebih lagi mereka sudah tahu hukumnya, tapi yang lain mengatakan bahwa hal itu adalah wajar karena inilah keadaan dan selama yang mereka lakukan tidak merugikan dan melenceng dari syariah tidak apa apa. Lalu ada lagi yang menambahkan “lha, bukankah pacaran itu sudah melenceng dari syariah?”.
Menurut saya aneh ketika saya menemukan sebuah komunitas atau ormas atau organisasi-organisasi yang melekatkan dengan bangga di dada mereka kata Islam tapi jauh dari nilai Islam. Dan apa yang saya temukan dalam forum tersebut mungkin salah satunya. Saya tidak tahu pasti apakah pacaran anak pondok yang dimaksudkan sang pembuat forum adalah mereka yang masih berada di dalam pondok atau mereka yang sudah alumni. Menurut hemat saya anak pondok baik yang masih belajar atau sudah alumni tetap anak pondok, karena predikat jebolan anak pondok sudah melekat lebih rekat daripada gelar sarjana yang mungkin mereka peroleh.
Pacarannya anak pondok atau mereka-mereka yang telah melekatkan kata Islam di dahi mereka pasti ada sebabnya, dan menurut hemat saya terkontaminasinya mereka dengan budaya barat karena mereka kurang istiqomah untuk melakukan kebenaran. Saya katakan seperti itu karena saya teringat ucapan Ibnu Taimiyah yang saya tulis di awal artikel ini. Banyak orang yang tidak pacaran bahkan sejauh yang saya temukan cendrung mengutuk pacaran karena banyak hal yang membuat mereka tidak bisa melakuakan itu dan ketika semua hal tersebut sudah menjadi sangat kondusif maka merekapun ber-reinkarnasi menjadi manusia baru yang dulu mereka kutuk.
Minggu lalu saya mendapat pesan singkat yang member tahu saya bahwa kawan saya akan menikah. Saya kaget dan salut karena secara umur kawan saya belum memasuki angka 20 lebih. Saya teringat masa-masa ketika saya dan kawan saya masih satu kelas dan dia berkata kepada saya bahwa dia akan menikahi orang yang dia cintai walaupun menurut orang pernikahan tersebut masih dianggap terlalu belia bagi sebagian orang. Kawan saya melakukan seperti itu karena dia memahami dan mencoba untuk melakukan sabda Rasulullah SAW. yang berbunyi “barang siapa yang sudah mampu untuk menikah maka menikahlah karena itu meneduhkan pandangan dan penahan hawa nafsu ……..” bagi kawan saya apa yang dia lakukan adalah sesuatu yang benar dan saya sangat setuju dengannya.
Banyak orang yang tahu akan kebenaran tapi hanya sedikit yang mau untuk melakukan kebenaran seperti halnya banyak orang yang memikirkan sumber penerangan tanpa minyak atau lemak tapi hanya Thomas Alfa Edisonlah yang berani untuk membuatnya menjadi nyata. Sepanjang yang saya temui banyak pencari pencari kebenaran yang pikirannya sangat kritis dan ilmunya dalam tapi hanya sedikit orang-orang yang bertindak sebagi pelaku kebenaran. Dan yang menjadi pertanyaan adalah manakah yang lebih penting, pencari kebenaran atau pelaku kebenaran.

Bagi saya kebenaran
Biarpun bagaimana sakitnya
Lebih baik daripada kemunafikan
(Soe Hok-Gie)


*Penulis adalah kader HMI Komisariat Pertanian, Cabang Purwokerto

Minggu, 13 Maret 2011

BATRA Jilid II

— LAPMI HMI-MPO PURWOKERTO @ 10.24

Basic Training HMI MPO Cabang Purwokerto
(konsep baru mengimplementasikan nilai-nilai keislaman)

(Purwokerto – LAPMI). Bentuk keprihatinan dengan adanya degradasi nilai-nilai keislaman pada budaya mahasiswaa saat ini dituangkan dalam tema Basic Training HMI MPO Cabang Purwokerto. Batra yang diadakan pada tanggal 11-13 Maret 2011 di Balai Benih Ikan, Singasari-Karang Lewas ini mengangkat tema “Internalisasi nilai-nilai keislaman dalam membangun kualitas moral, intelektual dan kepdulian sosial mahasiswa”. Acara ini merupakan salah satu media follow up yang dikhususkan untuk kader HMI yang beberapa waktu lalu baru saja lulus Basic Training. Batra yang hanya berhasil meluluskan 6 orang kader baru ini kembali dikemas dengan konsep inovatif, adanya divisi acara yang dibentuk untuk membantu memberikan sumbangsih ide-ide segar ternyata berhasil membuat kemasan Batra sedikit berbeda. 6 orang peserta tersebut diantaranya 3 akhwat berasal dari : 1 orang jurusan ilmu tanah-Pertanian, 1 orang jurusan sosiologi-FISIP dan 1 orang dari jurusan Ilmu Komunikasi-FISIP, ketiga akhwat tersebut berasal dari satu Universitas yang sama yakni UNSOED. Sedangkan 3 ikhwan berasal dari : 1 orang jurusan PGSD-UMP, 1 orang jurusan Agribisnis-Pertanian UNSOED dan 1 orang Jurusan Ilmu Komunikasi-UNSOED.
Adanya acara renungan malam yang dikemas lebih kreatif dan mengena, diawali dengan game ringan seperti mengambil koin logam yang nancap di buah papaya dengan mata tertutup, kemudian diakhiri dengan para peserta merenung di depan gundukan tanah menyerupai kuburan bernisan dengan tulisan nama masing-masing peserta.”rangkain acara renungan malam ini adalah gambaran kehidupan manusia di dunia yang selalu identik dengan senang-senang dan lupa akan adanya kematian” ungkap bambang setiadji yang akrab dipanggil Bams salah seorang panitia Batra. Kemudian Out Bond di pagi hari diisi dengan beberapa game-game yang melatih kepemimpinan serta syarat akan nilai-nilai materi “etos perjuangan” serta pemberian sangsi dari panitia bagi peserta yang melanggar atau kurang disiplin, efek adanya sangsi tersebut membuat efek jera tersendiri bagi para peserta Batra. Tidak begitu berat sangsi yang diberikan, tapi lebih kepada sangsi yang mendidik yakni mencuci piring, membersihkan ruangan dan sebagainya.
Menurut Erwin sang ketua Cabang, “Persiapan acara Batra ini kurang lebih memakan waktu 3 bulan”. Batra kali ini awalnya diminati oleh banyak peserta, terbukti dari jumlah total peserta yang konfirmasi akan mengikuti Batra ke panitia mencapai lebih dari 15 orang, akan tetapi menjelang hari H ternyata banyak peserta yang konfirmasi tidak bisa hadir dikarenakan bentrok dengan kegiatan lain. Jaya, seorang kader HMI Komisariat FISIP yang tidak lain sebagai ketua panitia acara ini mengatakan, “sedikitnya kader yang lulus adalah hal wajar, karena kader banyak pun sebenarnya nanti aka nada seleksi alam… Jadi yang penting ya, kader sedikit tapi bisa kita urus”.
Ikrar pelantikan-pun dibacakan usai Sholat Maghrib yang dihadiri oleh KPC Purwokerto yakni Robin, Tamrin, Erwin dan Tino. Kemudian langsung dilanjutkan dengan ceremony penutupan Batra. Acara yang ditutup oleh ketua umum HMI Cabang Purwokerto pada pukul 18.30 WIB ini memberikan kesan tersendiri bagi para peserta Batra. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Evan salah seorang peserta yang memberikan sambutan sebagai perwakilan peerta. Pasalnya, “acara ini banyak memberikan pelajaran berharga terutama dalam hal kedisiplinan dan kepedulian sosial.” (Setiyarji-Tino)

Selasa, 07 Desember 2010

Tamasya Hati dan Upgrade Etos Perjuangan Bareng HMI

— LAPMI HMI-MPO PURWOKERTO @ 23.47
(PURWOKERTO-LAPMI PWT). Selasa, 07 Desember 2010, Pukul 11.05 WIB. Sebanyak 18 kader HMI MPO Cabang Purwokerto yang terdiri dari ikhwan-akhwat menuju pantai Widara Payung-Cilacap. “Bukan semata-mata untuk berlibur melepas penat tetapi ini merupakan salah satu upaya untuk tamasya (merefleksikan) hati dan juga menumbuhkan rasa solidaritas antarkader baru dengan pengurus cabang serta komisariat”, menurut Erwin sang ketua umum. Agenda HMI yang bertepatan dengan peringatan tahun baru Hijriyah ini diadakan di tempat alam bebas, agar kader-kader HMI diharapkan dapat mensyukuri kebesaran Allah SWT dengan menikmati keindahan alam-Nya.



Meski terik siang terus menyengat tetapi dengan penuh semangat semua kader HMI menuju lokasi dengan mengendarai kendaraan bermotor. Kurang lebih 2 jam menikmati keindahan alam di bibir pantai widara payung, tepat pukul 15.02 WIB pengurus cabang menawarkan untuk pulang.


Sepulangnya dari pantai widara payung, KPC mengajak kader baru untuk membentuk sebuah forum diskusi di rumah kader akhwat, Ita Puspitasari yang di kepengurusan cabang periode ini menjabat sebagai bendahara umum. Letak rumah yang tidak jauh dari pantai, hanya membutuhkan beberapa menit untuk sampai di rumah tempat diskusi HMI kali ini. Menurut Tino salah satu anggota KPC HMI Cabang Purwokerto, “forum diskusi ini merupakan forum follow Up kader LK I yang baru saja dilantik beberapa waktu lalu”. Tak heran jika tema diskusi kali ini pun masih belum jauh-jauh dari materi LK I yaitu “Etos Perjuangan”, namun yang berbeda dari forum Follow Up kali ini adalah KPC menghadirkan pemateri Nur Abdul Azis dari KPC HMI Cabang Wonosobo yang saat ini sekaligus menjabat sebagai ketua umum HMI Cabang Wonosobo. Pemateri menjelaskan materi “Etos Perjuangan” dengan santai, dan seperti biasa dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Dalam pemaparannya pemateri menyampaikan banyak hal diantaranya, “manusia hidup di dunia ini harus mempunyai motivasi, begitupun juga saat kita memutuskan untuk ber-HMI”.




Dengan di moderatori oleh Tino, forum Follow Up berlangsung selama 2 jam sampai menjelang adzan maghrib tiba. Forum Follow Up ini ditutup tepat pada pukul 18.08 WIB yang kemudian dilanjutkan dengan melaksanakan sholat maghrib berjamaah. (Tino)

Minggu, 28 November 2010

Basic Training dan Harapan Keumatan

— LAPMI HMI-MPO PURWOKERTO @ 06.16

Purwokerto-LAPMI. Bertempat di balai benih ikan Desa Singasari, Kecamatan Karanglewas, HMI MPO Cabang Purwokerto kembali mengadakan latihan kader I (LK I). Pada LK I kesempatan kali ini tema yang diangkat adalah “Implementasi nilai-nilai keislaman untuk mewujudkan kepedulian sosial”. Munculnya tema tersebut berawal dari keprihatinan HMI melihat beberapa rangkaian musibah bencana yang melanda tanah air dan keprihatinan HMI melihat kondisi nilai-nilai keislaman di Indonesia yang semakin luntur tergerus oleh hedonisme dan budaya pop.

Sebanyak 16 orang, kader baru HMI yang berhasil dilantik pada LK I yang diadakan pada hari Sabtu-Minggu, tanggal 27-28 Nopember 2010 ini. Menurut Erwhin selaku ketua cabang, “LK I kali ini memang sengaja dikemas berbeda dengan LK I yang sebelum-sebelumnya. Pelaksanaan LK I selama 2 hari ini sengaja disesuaikan dengan kondisi zaman atau khususnya kondisi mahasiswa saat ini”. 16 orang kader tersebut terdiri dari 13 kader ikhwan dan 3 kader akhwat, yang masing-masing berasal dari jurusan berbeda. Kader ikhwan diantaranya adalah: 3 mahasiswa jurusan pertanian, 1 mahasiswa peternakan, 8 mahasiswa ilmu politik dan 1 mahasiswa jurusan D3 Sastra Inggris. Kader akhwat diantaranya adalah : 1 mahasiswi jurusan ilmu komunikasi, 1 mahasiswi jurusan ilmu politik dan 1 mahasiswi jurusan Bisnis Internasional.

Basic Training/LK I kali ini semua peserta berasal dari satu Universitas negeri yang ada di Purwokerto yaitu Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED). Dengan dipandu oleh Achmad Saptono dan Imam Susrohbiyanto, forum LK I HMI Cabang Purwokerto di kemas dalam format diskusi santai namun interaktif. Ditambah lagi di hari kedua, penguatan materi “Keyakinan Muslim” materi “Kepemimpinan” dan “teknik orasi” dikemas oleh panitia dengan metode Outbond dan game-game menarik di alam bebas. Pasalnya menurut Syahid ketua panita pelaksana LK I HMI MPO Cabang Purwokerto, “LK I kali ini adalah awalan bagi HMI MPO Cabang Purwokerto untuk kembali bangkit berjuang demi kemaslahatan umat, khususnya demi membela proletar-proletar yang semakin terpinggirkan oleh neoliberalisme”. Bambang Wibiono sang sekertaris umum HMI MPO Cabang Purwokerto menambahkan, “dalam waktu dekat kami juga akan kembali mengadakan LK I dan segera mengirimkan kader-kader pasca LK I HMI MPO Cabang Purwokerto untuk mengikuti LK II (Intermediate Training).

Di akhir acara, setelah sesi pelantikan kader baru oleh Korps Pengader Cabang (KPC) kemudian dilanjutkan dengan sesi penutupan acara LK I tepat pada pukul 17.07 WIB. Jaya mahasiswa jurusan Ilmu Politik, salah satu peserta LK I yang sekaligus menjadi pemberi sambutan perwakilan dari peserta, dengan gaya pidato kenegaraannya menyampaikan kesan dan pesannya, “Senang sekali rasanya di LK I HMI ini saya menemukan keluarga baru, saya harap ke depan HMI MPO Cabang Purwokerto mampu menjadi harapan bagi masyarakat Indonesia dan semoga HMI MPO Cabang Purwokerto akan selalu jaya”. (Tino)

Senin, 15 November 2010


Catatan Seorang Mantan Relawan*

— LAPMI HMI-MPO PURWOKERTO @ 01.33

Hari pertama Selasa 9 november 2010

Skitar pukul 13.00WIB tiga pria berkantung bolong dan satu wanita ganjen berangkat dari Purwokerto menuju Jogjakarta untuk melaksanakan misi baik, menjadi relawan. Walaupun merka berempat harus membolos kuliah, selama di perjalanan abu-abu vulkanik sudah banyak terlihat mulai dari kota Purworejo hingga Kota Sleman. skitar pukul 18.00 WIB, tiga pria brekantung bolong dan satu wanita ganjen sampai lah di Kota Jogjakarata walau pun harus disambut dengan hujan deras. Skitar pukul 19.00 WIB kami sampai dikostan Mas Aji, salah satu petinggi PB HMI MPO walaupun harus kliling Kota Jogja karna susah mencarinya. Sesampainya di sana, tiga pria berkantung bolong dan satu wanita ganjen disambut dengan sangat baik, mulai dari makan yang enak, diperbolehkan online 24 jam full, dan mendapat tempat tidur yang nyaman, walaupun harus seranjang bertiga. Sedangkan untuk wanita ganjen tidur dikamar sendiri.

Hari kedua Rabu 10 November 2010

Pada pagi hari setelah bangun tidur, wanita ganjen dan salah satu dari pria berkantung bolong langsung memegang laptop yang tesedia untuk menulis status-status yang tidak berbobot. Setelah semua mandi, tiga pria berkantung bolong dan satu wanita ganjen diajak sarapan pagi oleh Mas Aji dan Faza, lagi-lagi mereka mendapat makanan yang enak dan gratis. Setelah sarapan, mereka semua berangkat ke posko untuk melakukan pendataan relawan. Posko yang kami tempati bertempat di Wodomertani Condongcatur Sleman Yogjakarta.

Setelah menunggu sekitar 3 jam, satu dari pria berkantong bolong membantu membawa barang untuk para pengungsi. Wanita ganjen pun ditempatkan ditempat yang berbeda untuk membantu para relawan. Sedangkan 2 pria berkantung bolong yang lain hanya bisa terdiam dan menunggu mendapatkan pekerjaan.

Setelah menunggu sekitar 2 jam dua pria yang berkantung bolong akhirnya mendapatkan pekerjaan juga. Pekerjaan kedua pria itu hanya mendata para pengungsi selebihnya digunakan untuk patroli di lokasi pengungsian serta dapur umum. Selesai dinas, mereka berpatroli lagi ke daerah kali urang untuk memantau situasi di TKP. Jalan Kaliurang, tepatnya 13 km dari puncak merapi ditutup oleh polisi.

Pada malam hari, tiga pria berkantung bolong dan satu wanita ganjen diajak dinner oleh Mas Aji, dan lagi-lagi mereka mendapat makan yang enak dan gratis. Seusai makan, salah satu pria berkantung bolong dan wanita ganjen kembali memegang laptop untuk online dan menulis status-status yang tidak jelas lagi.

Hari ketiga Kamis 11 November 2010

Skitar pukul 05.00, mereka berempat bangun untuk salat subuh. Setelah salat, salah satu dari pria berkantung bolong dan wanita ganjen kembali memegang laptop untuk online dan menulis status-status yang gak jelas. Sedangkan dua pria berkantung bolong yang lain melanjutkan tidur kembali.

Sekitar pukul 07.30 mereka berempat mandi untuk siap-siap melanjutkan pekerjaan mereka. Pukul 09.00 mereka kembali berangkat ke posko melanjutkan tugas dinas sebagai relawan. Sebelum sampai ke posko, mereka berempat sarapan, dan kali ini dengan biaya sendiri. Mereka makan dengan alakadarnya saja, yang terpenting bisa makan untuk mengisi perut yang kosong.

Setelah perut terisi, mereka berempat langsung ke TKP. Kali ini, mereka berempat dibantu oleh mahasiswa dari UIN. Ketiga pria berkantung bolong ditempatkan masing-masing ada yang didapur biasa dan ada yang didapur umum. Sementara itu wanita ganjen ditempatkan di dapur biasa. Pekerjaan salah satu dari pria bekantung bolong membantu ibu-ibu yang sedang membungkus makanan, dua orang yang lain ditempatkan didapur umum untuk membuat kompor kayu bakar dan membuat nasi. Sedangkan pekerjaan si wanita ganjen adalah mengiris sayuran, mengupas bawang, dan mengoreng ubi.

Akhirnya pekerjaan pun selesai. Mereka kumpul dengan ibu-ibu untuk mendengar cerita tentang merapi saat meletus, keadaan rumah merka yang tertutup abu, keadaan hewan peliharan mereka yang tertinggal, keluarga yang mengungsi karena rumah yang tertutup oleh abu vulkanik dan tidak diperbolehkan untuk kembali karna rumah mereka masih dibatas bahaya, cerita tentang tetangga mereka yang tidak mau diungsikan hinga meninggal satu keluarga, suka duka mereka dipengungsian (walau pun pada kenyataannya mereka hanya mendapat duka saja selama bencana itu terjadi). Tugas para relawan kan untuk menghibur para pengungsi, ada yang dengan membuat lelucon dengan badannya yang besar, ada yang main sulap untuk menghibur anak-anak dan ada yang membelikan bakso untuk ibu-ibu yang sudah memasak dari jam 2 pagi sampai jam 12 siang. Semua itu bertujuan untuk meringankan penderitaan mereka dan hanya untuk membuat mereka bisa tertawa kembali walaupun hati dan perasaan mereka berduka.

Sesi bercerita dan menghibur pun usai dan mereka kembali melanjutkan pekerjaan dengan membuat tong besar sebagai penampung air bersih. Setelah semua pekerjaan selesai, semua relawan kembali ke tempat masing-masing. Lagi-lagi salah satu dari pria berkantung bolong dan wanita ganjen kembali memegang laptop dan online kembali.

Pada malam hari kami dipertemukan dengan salah satu petinggi PB HMI MPO sambil bersantap malam dengan menu yang enak dan gratis!. Setelah kenyang, lagi, lagi, dan lagi, salah satu pria berkantung bolong dan wanita ganjen kembali memegang laptop untuk kembali online bahkan salah satu dari pria berkantung bolong rela bergadang.

Hari keempat, Jum'at 12 November 2010

Kondisi di pengungsian terlihat baik-baik saja. Keperluan yang dibutuhkan pun semua tersedia. Jumlah pengungsi yang terdata oleh kecamatan mencapai 7042 orang. Relawan yang ditempatkan di sana berasal dari HMI MPO Cabang Jogja dan mahasiswa KKN dari UIN serta dibantu oleh warga sekitar. Kendala yang ada selama ini di tempat pengungsian adalah masih kurangnya ketersediaan MCK seperti kamar mandi umum.

Kita kembali pada cerita tiga pria berkantong bolong dan satu wanita ganjen. Sekitar pukul 09.00 WIB, ketiga pria berkantong bolong bangun dari tidur panjang. Sedangkan si wanita ganjen sudah terbangun lebih dahulu, bahkan sudah asik berselancar di dunia maya untuk chating dengan kawan-kawannya (mungkin) dan menulis status yang tidak jelas.

Pada pukul 11.00 WIB, rombongan “musafir” berangkat untuk sarapan pagi dengan terlebih dahlu membersihkan diri. Kali ini agak sedikit bergaya memberanikan diri makan di rumah makan padang, walaupun kantong mereka sudah bolong. Setelah menyantap makan pagi tanpa sisa, mereka bergegas untuk membayar apa yang telah mereka makan. Ketika membayar, kening mereka sedikit berkerut dan tersirat raut muka penyesalan. Ternyata harga satu porsi makan cukup mahal.

"gak lagi-lagi deh makan dirumah makan padang soalnya MAHAL. Harga untuk sekali makan dirumah makan padang padahal bisa buat dua kali makan di warteg" ujar salah seorang dari mereka.

Pukul 12.00 siang ketiga pria berkantong bolong berangkat ke masjid untuk menunaikan ibadah solat Jum’at. Si wanita ganjen ditugaskan untuk membersihkan kediaman Mas Aji.

Pada pukul 14.00 WIB ketiga pria berkantong bolong dan si wanita ganjen berangkat ke tempat pengungsian. Sesampainya di sana, mereka langsung disambut dengan banyak pekerjaan karna terlambat. Pekerjaan yang harus dilakukan adalah mengangkut buah-buahan, memberikan makan pada para pengungsi, memarut kelapa, mengupas kulit kacang, mengupas telur dan membantu ibu-ibu masak didapur umum. Walaupun pekerjaan yang dilakukan terdengar dan terlihat lebih mudah dan lebh ringan dari pekerjaan mereka kemarin, ternyata mereka harus merelakan pakaian untuk berkotor-kotor ria. Kedua pria berkantung bolong harus merelakan tangan mereka yang halus mulus karena perawatan, hingga terluka karena terparut. Ternyata pekerjaan mengupas kacang dan telur juga memerlukan konsentrasi yang tinggi agar kacang dan telur tersebut tidak rusak.

Pada saat para relawan berkerja, para pengungsi diberikan kajian pembacaan al-Quran dan doa-doa oleh ustad. Setelah mengikuti pengajian, para pengungsi diberikan perlengkapan yang diperlukan oleh TNI. Baru sekitar pukul 17.00 WIB ketiga pria berkantong bolong dan si wanita ganjen dapat kembali ke habitat. Sesampainya di “habitat”, salah satu dari pria berkantong bolong dan si wanita ganjen lagi, lagi, lagi, lagi, dan lagi memegang laptop untuk online, chating dengan kawan-kawannya (mungkin) dan kembali menulis status di facebook yang tidak jelas kembali.

Pada malam hari sekitar pukul 21.00 WIB, dua dari pria berkantong bolong dan si wanita ganjen jalan-jalan ke Malioboro. Sesampainya di Malioboro, niat awal untuk berbelanja ria buat para kekasih tercinta yang ditinggalkan di Purwokerto terpaksa harus diurungkan karena toko-toko disana sudah tutup semua. Padahal kalau tidak ada bencana merapi, Malioboro masih ramai. Akhirnya mereka bertiga hanya jalan-jalan keliling Kota Jogja. Saat melintas jembatan sayidan, terlihat banyak orang berkerumun. Karena penasaran, akhirnya mereka bertiga menghampiri kerumunan itu. Ternyata warga sedang melihat pemandangan berupa aliran lahar dingin yang melewati sungai di bawah jembatan syaidan. Sungai dipenuhi oleh aliran air bercampur material berupa lumpur yang merupakan lahar dingin, serta bebatuan yang bersumber dari gunung merapi. Aliran deras sungai dipenuhi oleh lumpur vulkanik.

Sekitar pukul 23.00 WIB mereka pun kembali ke “kandang”. Sesampainya di tempat Mas Aji, salah satu pria berkatong bolong dan wanita ganjen lagi- lagi (dan gak tau lagi berapa banyak saya harus menulis kata "lagi") memegang laptop dan seperti biasa, online, chating dengan sahabat (mungkin) dan kembali lagi lagi dan lagi menulis status-status di FB yang sangat tidak jelas. Pukul 23.30 WIB kedatangan tamu dari kawan-kawan HMI MPO Cabang Semarang. Mereka bertugas menggantikan relawan HMI MPO Cabang Purwokerto yang harus pulang keesokan harinya.

Demikan cerita untuk hari ini berhubung penulis sudah mengantuk dan besok pagi harus membawa motor untuk pulang ke Purwokerto, harap ditunggu cerita untuk keesokan harinya, karena hari terakhir yang pasti lebih seru, lebih bermanfaat dan lebih kocak.....

Sabtu, 30 Oktober 2010

Cemilan ala Stay Tuned I :

— LAPMI HMI-MPO PURWOKERTO @ 01.32


“Dibalik Bencana Yang Melanda Negriku”

Oleh : Akmal*


Suatu kewajiban bagi semua umat untuk selalu menjaga alam-Nya. Rakhmatan lil’alamin adalah tanggung jawab bagi manusia saat berada di muka bumi. Demikian Allah SWT menegaskan dalam firmannya Q.S. Al-Baqarah, ayat 11 yang artinya : “Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan."

Catatan sejarah mebuktikan semakin banyak terjadi tragedi bencana di sana-sini, bahkan sampai ada yang beranggapan bahwa saat ini Allah SWT telah murka karena ulah manusia yang tidak mau peduli lagi akan alamnya. Bencana banjir, longsor, tsunami, gempa bumi, gunung meletus, kecelakaan kereta api, jatuhnya pesawat terbang, karamnya kapal laut dan berbagai macam tragedi lainnya yang memakan banyak korban jiwa adalah gambaran sudah demikian seringnya sang penguasa alam menegur kita

Masih di Q.S. Al-Baqarah, Allah SWT berfirman di dalam ayat 117 bahwa : “Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah". Lalu jadilah ia.”. Manusia di hadapannya adalah hanya makhluk lemah yang tak berdaya, jika Allah berkehendak maka hari ini pun Allah bisa saja memerintahkan kepada malaikat Isrofil untuk meniupkan terompet sangkakala, maka hancur leburlah sudah Indonesiaku ini.

Masih ada sedikit waktu untuk kita renungi bersama tentang kondisi alam ini, “dibalik bencana yang melanda negriku” ini sudahkah kita mau merawat alam? Sudahkah kita menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya? Jangan-jangan gempa bumi yang terjadi di sekitar kita adalah ulah kita yang selalu berbuat dzholim kepada sesama – termasuk berbuat dzholim kepada alamnya. Mari kembali mengingat-Nya dan mensyukuri nikmat-Nya dengan selalu bermunasabah kepada-Nya.


*Penulis adalah kader HMI (MPO) Komisariat FISIP, yang saat ini kuliah di jurusan Ilmu Politik sks 2010.

Rabu, 20 Oktober 2010

Pernyataan Sikap dan Tuntutan

— LAPMI HMI-MPO PURWOKERTO @ 23.24
Aliansi Rakyat Banyumas Bersatu (alat bambu)
HMI (MPO), BEM FISIP, FMN, GMNI, HMI Dipo, IMM, PMKRI, PMII, KAMMI, LMND IPM, SRMI, BEM Unsoed

20 oktober, tepat satu tahun pemerintahan rezim SBY-Boediono jilid 2 berkuasa. setelah satu tahun rezim ini memerintah, banyak sekali terjadi persoalan yang memicu gejolak sosial masyarakat Indonesia. Hal ini dapat terihat dari berbagai sektor mulai dari wilayah pendidikan, kesehatan, penegakan HAM, supermasi hukum, korupsi, lingkungan hidup, dll. yang belum terselesaikan sampai sekarang dan manfaatnya tidak dirasakan langsung oleh rakyat. Program-program yang ditawarkan SBY pun tidak dapt menjawab permasalahan tersebut. Salah satu penyebabnya adalah orientasi program pemerintah seama ini hanya bersifat sektoral, bukan holistik. Selain itu, pemerintah lebih mengutamakan proyek-proyek pembangunan belaka tanpa membangun peradaban publik yang layak.

Bila kita mengacu pada data BPS tahun 2010, menunjukkan bahwa dari persebaran jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 237,6 juta jiwa, angkatan kerja negara Indonesia berjumlah 116 juta. Dari jumlah tersebut, jumlah pengangguran sebesar 8,9 juta, sedangkan anka kemiskinan mencapai sekitar 32,74 juta jiwa. Lebih dari 53 juta orang bekerja sebagai buruh, dan 42,83 juta lainnya bekerja sebagai petani.

Sementara, hutang luar negeri Indonesia tercatat sebesar 2500 trilyun rupiah, diantaranya dibuat selama 5 tahun pemerintahan SBY sebesar 300an trilyun. Belum lagi kerugian negara akibat illegal logging 83 milyar/hari atau 30,3 trilyun/tahun. Semakin merebaknya kerusakan ekologis dan alih fungsi lahan dari program develpmentalisme, hampir di seluruh penjuru bumi pertiwi mengakibatkan banyak terjadi bencana alam seperti: bajir, longsor, dl yg banyak menelan korban.

Berangkat dari keadaan obyektif ini, kami dari ALATBAMBU menuntut SBY segera menyelesaikan permasalahan ini. Maka dari itu kami menuntut:
1. realisasikan angaran pendidikan 20%
2. berikan lapanga pekerjaan
3. akses kesehatan untuk seluruh rakyat
4. tegakkan hukum dan usut tuntas kasus pelanggaran HAM
5. menghentikan pemerintaan neolib
6. hentikan eksploitasi hutan dan alih fungsi hutan
7. berantas korupsi tanpa tebang ilih
8. bangun sumber ketahanan pangan nasional melaui keuatan otonomi daerah
9. hapus hutang luar negeri Indonesia
10. jaga integritas dan kedaulatan negara
11. nasionalisasi industri pertambangan.

Apabila tuntutan ini tidak dapat direalisasikan, maka kami meminta dengan hormat kepada SBY agar berkenan untuk MUNDUR dari jabatannya.

Aliansi Rakyat Banyumas Bersatu (ALAT BAMBU) Meminta SBY dengan Legowo untuk Mundur

— LAPMI HMI-MPO PURWOKERTO @ 23.18


LAPMI Purwokerto- ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Basnyumas Bersatu atau yang disingkat ALATBAMBU melakukan aksi unjuk rasa terkait evaluasi 1 tahun kinerja pemerintahan SBY-Boediono. Ratusan masa yang terdiri dari berbagai organisasi pelajar, kemasyarakatan, mahasiswa dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unsoed dan STAIN, bergerak dari depan kampus pusat Universitas Jenderal Soedirman sekitar pukul 09.30wib menuju kantor RRI Purwokerto dan DPRD Banyumas.

Demostrasi yang di kordinatori oleh Alex melakukan long march dan menuntut perbaikan kondisi bangsa dan negara yang saat ini dinilai semakin tak membawa angin perubahan ke arah yang lebih baik. Pemerintahan SBY yang telah dua periode memerintah dinilai malah semakin membawa kemunduran. Beberapa aspek yang menjadi sorotan dalam evaluasi kinerja SBY diantaranya adalah persoalan pendidikan, penegakan HAM, jaminan kesehatan, supremasi hukum, korupsi, lingkungan, hingga persoalan kedaulatan negara.

Seperti yang disebutkan dalam press realesse bahwa dari angkatan kerja Indonesia yang mencapai 116 juta jiwa, sekitar 8,9 juta merupakan engangguran dan lebih dari 53 juta orang bekerja sebagai buruh dan 42,83 juta orang lainnya bekerja sebagai petani. Sementara itu persoalan hutang luar negeri Indonesia yang mencapai 2500 (dua ribu lima ratus) trilyun menjadi permasalahan penting yang perlu dipikirkan jalan keluarnya. sebab dari jumlah utang tersebut, sekitar 300an trilyun dibuat dalam masa pemerintahan SBY. Angka ini belum ditambah dengan kerugian negara akibat illegal logging yang mencapai 83 milyar/hari atau mencapai 30,3 trilyun/tahun. Dampak ekologi dari pembalakan liar dan juga ekspolitasi SDA oleh perusahaan asing telah mengakibatkan kerusakan ekosistem di Indonesia yang diangap sebagai salah satu paru-paru dunia.

Berdasarkan beberapa persoalan yang disoroti itu, ALAT BAMBU menuntut pemerintah SBY-Boediono untuk memperbaiki keadaan dan apabila tuntutan itu tidak mampu direalisasikan, maka meminta dengan hormat kepada SBY-Boediono secara legowo untuk mundur dari jabatannya.

Aksi masa ini mendapatkan pengawalan ketat dari pihak kepolisian sejak awal keberangkatan, bahkan ada beberapa orang dari polisi yang turut berjalan kaki mengawal jalannya aksi. Rombongan demonstran ini melakukan orasi di setiap perempatan, di depan kantor RRI purwokerto, dan depan gedung DPRD Kabupaten Banyumas. Di depan gedung dewan, para demonstran ditemui oleh anggota DPD. Sempat juga ada salah seorang tukang becak yang melakukan orasi untuk menagih janji SBY ketika kampanye Pilpres dahulu. Intinya ia tidak ingin sekedar janji, tetapi bukti nyata. (BMW)

Selasa, 12 Oktober 2010

Aksi Si Jago Merah Mengguncang Purwokerto

— LAPMI HMI-MPO PURWOKERTO @ 18.05

LAPMI-PWT- Purwokerto, di pagi hari yang sejuk tiba-tiba Purwokerto dihebohkan sebuah peristiwa kebakaran hebat. Kebakaran terjadi di sekitar jalan kampus, tepatnya di samping AlfaMart yang berada di pertigaan jalan Madrani, Kelurahan Grendeng.

Kebakaran itu terjadi sekitar pukul 05.00 wib (13/10/2010) ketika sebagian warga Kelurahan Grendeng dan sekitarnya tengah asyik menikmati dinginnya udara pagi. Seketika banyak orang yang berhamburan ke luar rumah dan berteriak tidak jelas. Terang saja, dari jarak 500 meter terlihat kepulan asap hitam pekat membumbung tingi di angkasa yang menandakan si jago merah tengah "mendemonstrasikan" aksinya melahap apa yang ada. Setidaknya ada tiga bangunan berikut isinya, sebuah mobil pick up, serta sebuah sepeda motor yang ludes dilahap si jago merah ini.

Sebanyak empat mobil pemadam kebakaran diterjunkan untuk menjinakkan api. Kurang lebih 45 menit api baru bisa dipadamkan. Sebelumnya api sempat membesar kembali ketika hampir padam akibat kemacetan alat pemadam yang tiba-tiba tidak dapat menyemprotkan air.

Hingga sejauh ini belum diketahui penyebab pasti kebakaran hebat yang terjadi di jalan kampus ini. Dugaan awal adalah akibat kompor di salah satu warung. Insiden ini tidak menimbulkan korban jiwa, namun ditaksir kerugian mencapai ratusan juta karena toko bangunan yang berada di sebelahnya ikut terbakar beserta mobilnya.
(BMW)














Rabu, 06 Oktober 2010

Kemiskinan Indonesia menurun, masa sih???

— LAPMI HMI-MPO PURWOKERTO @ 20.28

Berdasarkan informasi terakhir dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang dimuat oleh www.kompas.com menyatakan bahwa kemiskinan di Indonesia mengalami penurunan. Berikut kutipan beritanya.

Penduduk miskin di Indonesia, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, tercatat 13,3 persen dari penduduk Indonesia. Jumlah ini sedikit menurun dibanding tahun 2009 yang angkanya mencapai 14,1 persen. Kemiskinan merupakan permasalahan multidisiplin, tidak hanya disebabkan faktor ekonomi, tetapi juga terkait masalah sosial, budaya, politik dan lain-lainnya.

Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan rakyat RI HR Agung Laksono mengungkapkan itu pada peluncuran buku Mereka yang Tak Terlihat; Kemiskinan dan Pemberdayaan di Indonesia, yang ditulis Irfan Kortschak, Rabu (6/10) di Jakarta. Target MDGs untuk Indonesia pada tahun 2015 adalah berkurangnya jumlah penduduk miskin hingga separuhnya dari angka kemiskinan tahun 1990, yaitu sekitar 7,5 persen dari total jumlah penduduk, katanya.

Agung menjelaskan, penanggulangan kemiskinan menjadi salah satu prioritas Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II dan ditargetkan pada akhir Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010-2014 jumlah penduduk miskin turun menjadi 8-10 persen.

Banyak hal, lanjut Agung Laksono, yang mempengaruhi masyarakat menjadi miskin, misalnya belum terpenuhinya hak-hak dasar masyarakat miskin itu sendiri, seperti hak atas pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, tanah, sumberdaya alam, air bersih dan sanitasi, rasa aman, dan hak untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan kebijakan publik dan proses pembangunan.

Namun demikian, di luar itu semua ternyata di sekitar kita masih ada saudara-saudara kita yang belum seberutung kita di sini, seperti yang diceritakan dalam buku Mereka yang Tak Terlihat; Kemiskinan dan Pemberdayaan di Indonesia ini, tandasnya.

Menurut Agung Laksono, mereka yang belum tersentuh program pembangunan selama ini diberdayakan melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Peduli.

Ketua Kelompok Kerja PNPM, Suyana R mengatakan, buku Mereka yang Tak Terlihat; Kemiskinan dan Pemberdayaan di Indonesia merupakan potret suatu kalangan yang belum tersentuh, belum mendapatkan pelayanan sebagaimana harusnya.

Buku menceritakan mereka-mereka yang belum tersentuh pembangunan dan bagaimana keberanian mereka menghadapi hidup. Mereka tak mendapatkan pelayanan sedikit pun dalam program pembangunan nasional, katanya.

Menurut Suyana, PNPM yang tidak dianggarkan pemerintah ini, diminati masyarakat kecil karena pirnsipnya mereka bisa mewujudkan impiannya. Ada kekuatan motivasi dan gotong royong. PNPM telah mengembangkan inisiatif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memberi mereka kesempatan untuk secara aktif berpartisipasi dalam kehidupan sosial, politik, dan ekonomi.

Mereka berkisah
Pada peluncuran buku semalam, orang-orang yang termajinalkan dan berkisah dalam buku tersebut, hadir menceritakan langsung pengalamannya. Ada orang dengan cacat fisik di Aceh. O rang dari sebuah desa dengan kelainan tunarungu yang dibawa sejak lahir di Bali yang sangat besar jumlahnya. Sampai orang yang mengidap HIV AIDS positif di Papua.

Yudi, penderita HIV AIDS positif itu mengatakan, bahwa kondisi saat ini tidak membuatnya menderita, walau dijauhkan dari keluarga. Dalam pelayanan kesehatan, saya didiskriminasi, ketika istri saya yang negatif HIV AIDS, saat melahirkan tak ada yang mau melayani, takut tertular.

Orang yang peduli dengan penderita HIV AIDS sedikit sekali, sehingga akhirnya saya bentuk komunitas penderita HIV AIDS positif bernama Kelompok Sorong Sehati, kata Yudi, yang positif HIV AIDS sejak 2003 .

Selasa, 05 Oktober 2010

Undangan Silaturahmi Alumni HMI (MPO) Cabang Purwokerto

— LAPMI HMI-MPO PURWOKERTO @ 01.21


Assalammu'alaikum, WR. WB

Salam hangat dari kami Pengurus HMI Cabang Purwokerto.

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmatnya, serta sang pemimpin umat yang telah berhasil menghantarkan kita dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang seperti sekarang ini.

Sebagai insan ulil albab, sudah menjadi kewajiban bagi kita semua untuk saling menjaga tali silaturrahmi antarumat. Pada kesempatan kali ini, kami (pengurus HMI Cabang Purwokerto) ingin mengundang kanda/yunda alumni yang tergabung dalam keluarga besar HMI Cabang Purwokerto untuk hadir pada acara temu alumni yang akan dilaksanakan pada :

Hari/Tanggal : Sabtu, 09 Oktober 2010
Pukul : 19.30 Wib s/d selesai
Tempat : Pendopo Kelurahan Sumampir-Purwokerto Utara
Acara : Silaturrahmi antaralumni keluarga besar HMI Cabang Purwokerto.
Tema : Silatturahmi Antaralumni sebagai Upaya Up Grading Ghiroh Perjuangan Ke HMI-an menuju masyarakat yang tamaddun.
Kontribusi : Rp. 50.000,00- (Lima Puluh Ribu Rupiah).


Hal yang paling berharga demi melanjutkan perjuangan keumatan bagi kami adalah terjaganya tali silaturrahmi antarkader, pengurus beserta alumni-alumni HMI. Semoga dengan adanya acara ini akan semakin memperkuat ukhuwah the power of moslem. Demikian undangan ini kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan banyak terimakasih.

Wassalammu'alaikum, WR. WB


*Catatan : Untuk Kontribusi bisa langsung dikirim ke No.Rek.HMI Cabang Purwokerto : 85067807 a/n Bambang Wibiono BNI Cabang Purwokerto. (Mohon Konfirmasi setelah melakukan transaksi pengiriman). Atau bisa langsung menghubungi Ketua Cabang : Erwin Asrizal 081327739225. Syukron.

Senin, 04 Oktober 2010

HMI DAN BABAK PERJUANGAN BARU*

— LAPMI HMI-MPO PURWOKERTO @ 06.25

HMI sejak kelahirannya tahun 1947 telah melewati beberapa dinamika zaman. Dari keterlibatannya dalam revolusi kemerdekaan dengan turut dalam pengusiran penjajah, terlibat aktif dalam perumusan identitas kebangsaan, korban konflik kepentingan politik menjelang kejatuhan Soekarno hingga menjadi korban represivitas rezim Orde Baru yang memaksakan asas tunggal Pancasila. Paska runtuhnya rezim otoriter Soeharto, HMI menghadapi zaman yang mengedepankan keterbukaan dan kompetisi, zaman yang menuntut setiap pihak yang bermain dan terlibat intens di dalamnya untuk memiliki karakter yang siap menghadapi tantangannya serta memiliki keunggulan kompetitif yang membuatnya bisa tetap eksis di tengah persaingan dengan pihak lain yang juga berusaha untuk eksis. Zaman ini bukan tanpa masalah, karena di zaman ini sangat kelihatan manusia sedemikian induvidualis-nya hingga hampir-hampir melupakan bahwa dirinya tidak hidup di ruang hampa yang juga perlu mempertimbangkan keberadaan orang lain sebagai faktor yang membantu eksistensinya.

Disamping itu, zaman ini juga ditandai dengan gerak laju masyarakat yang tergerus mainstream liberal. Dengan tentu saja materialisme sebagai kerangka paradigmatik-nya. Dampak yang paling nyata dari itu semua adalah semakin sulitnya memisahkan kebenaran dari kepentingan politik dan ekonomi yang tentu saja sudah berpaham liberal. Kebenaran yang dipaksakan tersebut akan menjadi penopang utama kekuasaan dan penguasaan modal oleh segelintir orang atas nama kebebasan. Hingga hasilnya adalah keadilan dan kemakmuran yang semakin jauh dari jangkauan masyarakat.

HMI tidak pernah takut untuk berkompetisi, tidak pula ragu dalam mendia- lektikakan gagasan. Kader HMI bukan manusia lembek yang akan mudah tergerus dan lekang oleh hingar-bingar pertarungan politik. Bukan pula pribadi pema- las yang akan tersingkir dalam perolehan ekonomi. Tetapi HMI akan menentang keras apabila kompetisi cenderung menghalalkan segala cara dan mengkooptasi dunia politik dan juga ekonomi, karena hanya menjerumuskan masyarakat pada bencana kemanusiaan maha dahsyat yaitu pembunuhan massal atas harapan.

Mengapa sikap ini harus diambil oleh HMI? Hal ini karena realitas tersebut sangat bertolak belakang dengan cita-cita peradaban Islam yang diusung sebagai gagasan normatif HMI, yaitu terwujudnya tatanan masyarakat adil dan makmur yang diridloi Allah SWT. Maka untuk menghadapi tantangan zamannya HMI dituntut tidak hanya diam dan memaklumi keadaan yang sedang terjadi atas nama realitas, lebih dari itu, HMI harus memutuskan bahwa sekarang adalah babak perjuangan baru. Untuk itu HMI harus merumuskan bentuk-bentuk perlawanan guna membalik keadaan menjadi berjalan sesuai gagasan normatif HMI.

Dalam konteks ini, ada dua tugas HMI yaitu, pertama, HMI harus mampu merumuskan paradigma gerak. Bangunan paradigmatik ini memuat dengan sangat jelas masyarakat apa yang dicita-citakan HMI. Bangunan paradigmatic tersebutlah yang akan memandu HMI dalam pencapaian cita-citanya. Bangunan ini di dalamnya terumuskan penjelasan tentang pandangan dunia (world view). HMI dan pedoman nilai sebagai guidance atau koridor gerak HMI.

Kedua, HMI butuh akan metodologi gerakan. Gerakan perjuangan ini harus menggunakan cara-cara yang tersistematisasikan agar lebih efektif tanpa harus kehilangan identitas HMI sebagai organisasi kader yang berbasis intelektual. Diperlukan kebijakan yang dapat mensinergikan semua potensi kader, memberi ruang berekspresi seluas-luasnya dengan tentu saja paradigma gerakan yang telah selesai sebagai code of conduct. Sehingga dari metodologi akan muncul sebuah kultur gerakan.

Perjalanan sejarah HMI sejak berdirinya dapat menjadi modal awal untuk memasuki babak baru perjuangannya. Keterlibatannya dalam revolusi kemerdekaan, peran-perannya dalam perumusan identitas kebangsaan, serta keteguhannya menghadapi represivitas politik dari rezim Orde Lama Soekarno maupun rezim Orde Baru Soeharto bisa ditransformasikan menjadi energi besar untuk melawan arus liberalisme.

Buku yang ada di hadapan rekan-rekan sekalian adalah tulisan yang didedikasikan seorang alumni HMI yang senantiasa tanpa lelah mendampingi perjalanan rekan-rekan aktivis HMI baik sebagai mentor maupun sebagai rival diskusi. Buku ini tidak ditulis atas pretensi romantis tetapi mengajak kita semua untuk berpikir paradigmatik, metodologis, dan apresiatif atas “kegelisahan” kader perorangan maupun HMI secara institusional. Lebih jauh buku ini dapat dijadikan pegangan untuk memberikan jawaban atas berbagai permasalahan yang dihadapi HMI terkait dengan babak perjuangan baru yang dihadapinya.


* Tulisan ini diambil dari kata pengantar dalam buku "HMI (MPO) dalam Transisi" karya Awalil Rizky
HMI KU UNTUK
INDONESIA BARU